WELCOME TO MY BLOG, DON'T FORGET TO LEAVE A COMMENT _ Selamat datang di blog saya, jangan lupa tinggalkan komentar... THANK YOU :)

Sabtu, 07 April 2012

Zaman Pendudukan Jepang di Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Bangsa Indonesia sekarang ini sudah merdeka, walaupun pada kenyataannya bangsa kita masih dijajah. Tetapi dalam bentuk yang begitu halus, sehingga tak dapat merasakannya seperti halnya produk-produk dari jepang yang masuk kedalam negeri. Produk jepang yang lebih murah dan guna barangnya sudah dapat memenuhi criteria. Dahulu kita dijajah oleh bangsa Jepang masih dalam bentuk kekerasan, sehingga semua rakyat Indonesia masih dapat merasakan. Dengan kita mengetahui fenomena-fenomena terdahulu, yaitu saat kita dijajah oleh bangsa jepang. Kerugian-kerugian apa saja yang telah dirasakan oleh rakyat Indonesia. Sehingga kita dapat belajar dari sejarah sejak jaman pendudukan Jepang.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa latar belakang jepang menguasai Indonesia?
2.      Bagaimana zaman pendudukan Jepang di Asia Pasifik?
3.      Bagaimana Pengekangan politik pada masa Pendudukan Jepang di Indonesia?
4.      Bagaimana Pemerasan social ekonomi pada pemerintahan Jepang?

C.    TUJUAN
  1. Menjelaskan latar belakang Jepang menguasai Indonesia.
  2. Menjelaskan zaman pendudukan Jepang di Asia Pasifik.
  3. Menjelaskan pengekangan politik pada masa pendudukan Jepang di Indonesia.
  4. Menjelaskan pemerasan sosial ekonomi pada pemrintahan Jepang.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Latar belakang Jepang menguasai Indonesia
1.      Modernisasi Jepang
Bangsa barat yang pertama kali mendobrak politik isolasi Jepang adalah Amerika Serikat. Pada tahun 1853, angkatan laut Amerika Serikat di bawah pimpinan Commodore Metthew Calbraith Perry tiba di Teluk Yokohama. Tujuannya untuk meminta kepada pemerintah Jepang membuka kota-kota pelabuhannya bagi keperluan perniagaan (perdagangan). Namun, pemerintah Jepang yang diwakili oleh Shogun dari Keluarga Tokugawa meminta waktu untuk mempertimbangkannya.
Pada tahun 1854, Commodore Perry kembali ke Jepang yang dilanjutkan dengan dibuatnya perjanjian Shimoda. Tujuan dari perjanjian itu adalah untuk membuat kesepakatan hubungan antara Jepang dengan Amerika Serikat. Namun perjanjian yang disepakati antara Shogun dengan Amerika Serikat itu menyebabkan munculnya golongan-golongan yang tidak setuju atau menentang pembukaan Jepang dan sekaligus menentang politik Shogun.
Pada dasarnya di Jepang terdapat dua kekuasaan pemerintah, yaitu pemerintahan Shogun yang berkududukan di Edo dan pemerintahan Kaisar (Tenno) yang berpusat di Kyoto. Pada tahun 1867 Kaisar Komei meninggal dunia dan digantikan oleh puteranya yang bernama Pangeran Mutshuhito dengan gelar Tenno Meiji. Gerakan untuk mengembalikan kekuasaan ke tangan Kaisar semakin kuat dan mencapai puncaknya. Shogun Yosinobu meletakkan jabatannya pada tanggal 8 November 1867. Untuk mengakhiri kekuasaan Shogun itu, maka Jepang memasuki era baru, dimana kekuasaan kembali berada di tangan Kaisar (Tenno). Peristiwa ini dikenal dengan Restorasi Meiji. Kaisar Meiji melakukan pembaharuan di segala bidang kehidupan masyarakat Jepang dengan tujuan untuk mengejar ketinggalan-krtinggalan dari bangsa-bangsa Barat. Tahun 1873 diadakan wajib militer bagi semua lapisan masyarakat dan juga bentuk tentara nasional dengan segala perlengkapannya yang dibeli dari negara-negara Barat. Pada tahun 1871 dibentuk departemen pengajaran serta dikeluarkanlah wajib belajar terhadap anak-anak usia 6-14 tahun,dan Jepang menjadi negeri pertama di dunia yang bebas buta huruf. Pada tahun 1873 dibentuk sistem pajak baru. Dengan demikian setelah Restorasi Meiji dalam waktu yang cukup singkat Jepang menjadi negara maju dan dapat mengangkat dirinya sejajar dengan negara-negara Barat.

2.      Akibat Modernisasi dan Politik Imperialisme Jepang 
Industri Jepang maju dengan cepat sejak terjadinya modernisasi tahun 1868, begitu pula dengan jumlah penduduk semakin bertambah sehingga berpengaruh pada bidang ekonomi. Ketika Jepang merasa dirinya telah kuat timbul keinginan untuk mengikuti jejak bangsa-bangasa Barat dalam usaha untuk mendapatkan daerah-daerah jajahan. Menjelang akhir abad ke-19 (1894-1895) terjadi perang Jepang-Cina. Dalam perang ini Jepang memperoleh kemenangan. Kemudian pada tahun 1904-1905 terjadi perang antara Jepang-Rusia dan Jepang berhasil memukul mundur pasukan Rusia di Manchuria. Pada perang Dunia I (1914-1918) Jepang terlibat perang melawan Jerman dengan tujuan untuk mendapatkan daerah-daerah jajahan Jerman di Asia. Pada tahun 1931 Jepang malakukan serangan terhadap Manchuria dan berhasil menguasai sebagian besar dari daerah Manchuria dalamwaktu 6 bulan. Pertikaian tentanra Jepang dengan Cina terus berkobar. Dalam tahun 1937 diawali dengan terjadinya insiden di atas jembatan Marco Polo, Jepang dengan persenjataan yang serba modern mengadakan pendaratan secara besar-besaran di Cina Utara dan Tengah. Setelah insiden itu, Presiden Cina Chiang Kai Shek memaklumkan bahwa telah terjadi perang Cina dan Jepang. Dengan adanya perang Jepang-Cina, mulailah Baron Tanaka merebut wilayah-wilayah yang ada di Laut Selatan dan Asia Timur Raya.perang ini ternyata menggoncangkan suasana di daerah Pasifik, sehingga masing-masing negara yang sedang berkuasa pada saat itu di daeerah Pasifik memperkuat kedudukannya,sehingga tanda-tanda akan meletusnya perang Pasifik mulai tampak nyata.

3.      Pengaruh Modernisasi Jepang di Asia Pasifik
a.      Bidang politik
Kemenangan Jepang terhadap Rusia telah membangkitkan bangsa-bangsa Asia untuk menentang imperialisme Barat. Gerakan nasionalisme bermunculan, seperti di Indonesia Lahirnya Budi Utomo (1908), di Vietnam lahir Vietnam Restoration League (1907).
b.      Bidang militer
Tentara Jepang dikenal dengan Pasukan Kate (karena orang-orang Jepang pendek-pendek), yang memiliki semangat Bushido yang tinggi yang ditunjang oleh persenjataan modern. Ekspansi Jepang yang selalu berhasil akhirnya menyadarkan bengsa-bangsa Barat terhadap bahaya “Kuning” yang dari arah utara.
c.       Bidang ekonomi
Jepang berusaha untuk merebut pasaran hasil industri dengan melaksanakan Politik Dumping. Negara-negara yang kaya dengan hasil bahan industri akan bekerjasama dengan Jepang sebagai negara yang maju industrinya, sehingga akan terjadi kerjasama yang serasi untuk meningkatkan kemakmuran bersama.

B.     Zaman Pendudukan Jepang di Indonesia
1.      Masuknya Jepang ke wilayah Indonesia
Sebagai negara fasis-militerisme di Asia, Jepang sangat kuat, sehingga meresahkan kaum pergerakan nasional di Indonesia. Sedangkan sikap pergerakan politik bangsa Indonesia  dengan tegas menentang dan menolak bahwa fasisme sedang mengancam dari arah utara. Sikap ini dinyatakan dengan jelas oleh Gabungan Politik Indonesia (GAPI). Pada tanggal 8 Desember 1941 pecah perang di Lautan Pasifik yang melibatkan Jepang. Angkatan perang Jepang begitu kuat, sehinnga Hindia Belanda yang merupakan benteng kebanggan Inggris di daerah Asia Tenggara akhirnya jatuh ke tangan pasukan Jepang. Jatuhnya Singapura ke tangan Jepang pada tanggal 15 Februari 1941, yaitu dengan ditenggelamkannya kapai induk Inggris bernama Prince of Wales dan Refulse, sangat menggoncangkan pertahanan sekutu di Asia. Secara kronologis serangan-serangan pasukan Jepang di Indonesia adalah sebagai berikut: diawali dengan menduduki Tarakan (10 Januari 1942), kemudian Minahasa, Sulawesi, Balikpapan, Ambon. Kemudian pada bulan Februari 1942 pasukan Jepang menduduki Pontianak, Makassar, Banjarmasin, Pelembang dan Bali. Kemudian di Batavia (5 Maret 1942), Bandung (8 Maret 1942)dan akhirnya pasukan Belanda di Jawa Tengan menyerah kepada Panglima Bala Tentara Jepang Imamura di Kalijati (Subang, 8 Maret 1942).

 
2.      Penjajah Jepang di Indonesia
Pembesar Bala Tentara Nippon memegang kekuasaan militer dan segala kekuasaan yang dulu dipegang oleh gubernur Jendral (pada masa kekuasaan Belanda). Dalam pelaksanaan sistem pemerintahan ini, kekuasaan atas wilayah Indonesia dipegang oleh dua angkatan perang yaitu angkatan darat (Rikugun) dan angkatan laut (Kaigun). Masing-masing angkatan mempunyai wilayah kekuasaan. Dalam hal ini Indonesia dibagi menjadi tiga wilayah kekuasaan yaitu:
a.       Daerah Jawa dan Madura dengan pusatnya Batavia berada di bawah kekuasaan Rikugun.
b.      Daerah Sumatra dan Semenanjung Tanah Melayu dengan pusatnya Singapura berada di bawah kekuasaan Rikugun.
c.       Daerah Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Irian berada di bawah kekuasaan Kaigun.

3.      Organisasi Bentukan Jepang
a.      Gerakan Tiga A
Gerakan ini disebut Gerakan Tiga A karena semboyannya adalah Nippon Pelindung Asia, Nippon Cahaya Asia, Nippon Pemimpin Asia. Gerakan ini dipimpin oleh Syamsuddin SH. Namun dalam perkembangan selanjutnya gerakan ini tidak dapat menarik simpati rakyat, sehinnga pada tahun 1943 Gerakan Tiga A dibubarkan dan dibagi dengan Putera.
b.      Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA)
Organisasi ini dibentuk pada tahun 1943 dibawah pimpinan “Empat Serangkai”, yaitu Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, KH Mas Mansyur. Gerakan Putera ini pun diharapkan dapat menarik perhatian bangsa Indonesia agar membantu pasukan Jepang dalam setiap peperangan yang dilakunnya. Ternyata Gerakan Putera yang menjadi bentukan Jepang ini ternyata menjadi bumerang bagi Jepang. Hal ini disebabkan oleh anggota-anggota dari Putera yang memiliki sifat nasionalisme yang tinggi.
c.       Pembela Tanah Air (PETA)
PETA merupakan sebuah organisasi bentukan Jepang dengan keanggotaanya berisi pemuda-pemuda Indonesia. Dalam organisasi PETA ini para pemuda bangsa Indonesia dididik atau mendapatkan latihan kemiliteran dari pasukan Jepang. Pemuda-pemuda inilah yang menjadi tiang utama perjuangan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia. Tujuan awalnya pembentuka organisasi PETA ini adalah untuk memenuhi kepentingan peperangan Jepang di Lautan Pasifik. Namun karena PETA bersifat nasional dan diaanggap sangat membahayakan kedudukan Jepang atas wilayah Indonesia, maka pada tahun 1944 PETA dibubarkan. Berikutnya Jepang mendirikan organisasi lainnya yang bernama Perhimpunan Kebaktian Rakyat yang lebih terkenal dengan nama Jawa Hokokai. Kepemimpinan organisasi ini berada di bawah Komando Militer Jepang.

4.      Perlawanan Rakyat terhadap Jepang
Buruknya kehidupan rakyat mendorong timbulnya perlawanan rakyat di beberapa tempat seperti:
a.       Aceh pada tahun 1942
b.      Karang Ampel, Sindang (Kabupaten Indramayu) tahun 1943
c.       Sukamanah (Kabupaten Tasikmalaya) tahun 1943
d.      Blitar pada tanggal 14 februari 1945

5.      Dampak Pendudukan Jepang bagi Indonesia
a.       Bidang politik
Sejak masuknya kekuasaan Jepang di Indonesia, organisasi-organisasi politik tidak dapat berkembang lagi. Bahkan pemerintah pendudukan Jepang menghapuskan segala bentuk kegiatan organisasi-organisasi, kemudian diganti dengan organisasi buatan Jepang, sehingga kehidupan politik pada masa itu diatur oleh pemerintah Jepang.
b.      Bidang ekonomi
Kedatangan bengsa Jepang ke Indonesia berlatar belakang masalah ekonomi, yaitu mencari daerah-daerah sebagai penghasil bahan mentah dan mahan baku. Aktivitas perekonomian bangsa Indonesia pada zaman Jepang sepenuhnya dipegang oleh pemerintah Jepang.
c.       Bidang pendidikan
Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, kehidupan pendidikan berkembang pesat dibandingkan dengan pendudukan Hindia Belanda. Pemerintah pendudukan Jepang memberikan kesempatan kepada bangsa Indonesia untuk mengikuti pendidikan pada sekolah-sekolah yang dibangun oleh pemerintah.
d.      Bidang kebudayaan
Jepang sebagai negara fasis selalu berusaha untuk menanamkan kebudayaanya. Salah satu cara Jepang adalah kebiasaan menghornat ke arah matahari terbit.
e.       Biadang sosial
Selama masa pendudukan Jepang kehidupan sosial masyarakat sangat memprihatinkan. Terlabih lagi rakyat dijadikan romusha (kerja paksa), sehingga banyak jatuh korban akibat kelaparan dan penyakit.
f.       Bidang birokrasi
Kekuasaan Jepang atas wilayah Indonesia dipegang oleh kalangan militer, yaitu dari angkatan darat (rikugun) dan angkatan laut (kaigun). Dengan demikian sistem pemerintahan atas wilayah diatur berdasarkan aturan militer.
g.      Bidang militer
Kekuasaan Jepang atas wilayah Indonesia memiliki arti penting, khususnya dalam bidang militer. Para pemuda bangsa Indonesia diberikan pendidikan militer melalui organisasi PETA. Pemuda-pemuda yang tergabung dalam PETA inilah yang nantinya menjadi inti kekuatan dan penggerak perjuangan rakyat Indonesia mencapai kemerdekaannya. 

C.    PENGEKANGAN POLITIK
1.      Pengendalian  terhadap Pergerakan Nasional Indonesia
Jepang adalah Negara di benua Asia yang tidak pernah mengalami penjajahan bangsa-bangsa Barat. Abad ke 20 negara jepang mulai berhubungan dengan bangsa-bangsa Barat. Pada waktu itu bangsa-bangsa barat telah memasuki zaman modern sehingga Jepang mulai berkenalan dengan peradaban modern. Dlam waktu pendek jepang terkenal rajin,tekun bekerja dan kuat menderita itu telah dapat mengoper peradaban modern dari Dunia Barat. Jepang dalam waktu pendek dapat unggul dalam bidang teknologi. Tetapi dalam bidang rohaniah mereka tetap memelihara identitas JepangBudaya rohaniah jepang tetap tidak berubah. Jepang berhasil mengawinkan budaya warisan nenek moyang dengan teknologi Barat. Pada lahirnya mereka mencontoh tatahidup dan tatakarya Barat, tetapi pada batinnya mereka tetap orang Jepang yang memegang teguh adat-istiadat tradisional.
Setelah Jepang menjadi Negara industry modern, maka jepang membutukan daerah untuk memperoleh bahan-bahan mentahnya maupun untuk menjual hasil barang-barangnya. Daerah yang diinginkan oleh Jepang adalah negeri-negeri Asia, yang pada waktu itu telah dijajah atau setidak-tidaknya dikuasai ekonominya oleh bangsa-bangsa Barat. Untuk mendapatkan daerah Asia yang kaya dan padat penduduknya itu, jepang harus merebutnya dengan kekerasan dari bangsa-bangsa Barat. Perang perebutan jajahan antara Jepang dengan Negara-negara barat di Asia yang berlangsung selama kurang lebih 3,5 tahun (1941-1945) dinamai Perang pasifik sedangkan orang Jepang menyebutnya perang Asia Timur Raya. Pada tanggal 8 Desember 1941 menyerang Pearl Harbor, maka Gubernur Jendral Hindia Belanda menyatakan erang terhadap Jepang. Dalam jangka waktu kurang dari 100 hari Jepang berhasi menumbangkan kekuasaankolonial Inggris di Malaya dan Birma, AS di Filipina dan Belanda di Indonesia. Setelah belanda menyerah tanpa syarat, kemudian Jepang mulai beraksi. Jepang mulai berkuasa di Indonesia terutama pulau Jawa dan Sumatra diperintah oleh angkatan darat, sedangkan daerah Indonesia lainnya diperintah oleh angkatan laut jepang.
Sesuai dengan keadaan perang, maka pemerintah militer Jepang tidak membolehkan berdirinya partai-partai politik di Indonesia. Kegiatan politik Pergerakan nasional Indonesia dikendalikan oleh Jepang dan ditujukan untuk membantu jepang dalam Perang. Jepang berusaha mengerahkan semua orang Asia untuk usaha perangnya.

2.      Pengerahan total untuk usaha perang Jepang
Kedudukan Jepang dalam Perang Pasifik pada tahun 1943 sudah berubah.  Jepang yang tadinya berada di pihak penyerang, sekarang beralih ke pihak yang bertahan. Oleh karena itu jepang memerlukan dukungan dari penduduknya masing-masing. Itulah sebabnya di Indonesia Jepang mulai giat mengerahkan kaum muda Indonesia untuk membantu usaha Perang Asia Timur Raya. Rakyat Indonesia harus dipersiapkan secara fisik untuk menghadapi kedatangan Serikat di Indonesia. Untuk itu pada tanggal 9 maret 1943 didirikan organisasi semi militer. Dan pada bulan Agustus 1943 dibentuk Fujingkai (Himpunan Wanita). Fujingkai dapat dimasuki oleh semua wanita yang telah berumur 15 tahun ke atas.  Kepada kaum wanita inipun diberikan latihan-latihan militer.
Disamping itu para pemuda ada juga yang dimasukkan kedalam kelompok khusus untuk mendapatkan pendidikan membantu tugas-tugas kepolisian. Kelompok khusus ini disebut keibodan yang berarti barisan bantu polisi. Umur anggota Keibondan lebih tua dari umur anggota Seinendan yaitu antara 23 sampai 25 tahun. Yang dapat diterima menjadi anggota keibondan adalah semua laki-laki yang berasal dari tiap desa. Para anggota Keibondan diusahakan oleh jepang agar tidak mendapat pengaruh dari golongan nasionalis. Keibondan dibentuk di desa-desa dimana golongan nasionalis kurang mendapat pengaruh. Badan ini langsung dibawah pengawasan polisi, pengawasan terhadap badan ini dilakukan secara ketat sekali. Hal ini berbeda dengan Seinendan , dalam badan ini golongan nasionalis dapat menanamkan pengaruhnya. Dengan demikian mereka mengisi jiwa pemuda dengan semangat nasionalisme. Kedua badan tersebut dibentuk di Jawa, Sumatra dan daerah-daerah yang dikuasai oleh angkatan laut, di Sumatra Keibondan terkenal dengan nama Borneo Konen Hokokudan. Selain iru juga dibentuk organisasi pemuda Islam yang dinamai Hisbullah.
Memasuki tahun 1944 keadaan perang Pasifik bagi Jepang semakin gawat. Satu demi satu daerah pendudukan Jepang jatuh ke tangan Serikat, bahkan serangan mulai diarahkan ke negeri Jepang sendiri. Untuk meningkatkan kesiap-siagaan rakyat Indonesia, maka tanggal 14 September 1944 dibentuk barisan pelopor sebagai bagian dari Jawa Hokokai. Barisan pelopor ini merupakan organisasi pemuda pertama yang langsung dibimbing oleh kaum nasionalis Indonesia.  Pemimpin barisan ini adalah Ir. Soekarno dengan dibantu oleh R. P. Suroso dan Oto Iskandar dinata serta dr. Buntaran martoatmodjo. Barisan pelopor menggunakan senapan kayu dan bamboo runcing dalam mengadakan latihan-latihannya. Barisan pelopor juga dikerahkan untuk mendengarkan pidato dari pemimpin-pemimpin nasionalis. Mereka juga dilatih tentang cara-cara mengerakkan massa rakyat dan memperkuat pertahanan.  Karena tenaga jepang sudah habis, maka pada bulan april 1943 dikeluarkan pengumuman yang member kesempatan kepada pemuda Indonesia untuk menjadi pembantu prajurit Jepang (heiho).
Pada tanggal 3 Oktober 1943 panglima tentara Jepang di jawa memaklumkan pembentukan peta. Sebagai tindak lanjut dari penguman itu maka mulailah dilatih puluhan calon perwira Peta di kota Bogor. Sesuai dengan pembentukan peta di pulau jawa, maka di pulai Sumatra dibentuk Giyugun (tentara Sukarela). Dengan adanya tentara sukarela itu timbul suatu golongan yang memperoleh pendidikan militer pada zaman pendudukan Jepang. Harapan-harapan jepang sebagian besar tidak terlaksana, karena para pemimpin Indonesia yang bekerja sama dengan jepang, berhasil menanamkan semangat nasionalisme di kalangan pemuda. Lebih-lebih pemuda hasil didikan peta, yang kebanyakan terdiri dari pelajar-pelajar sekolah, dapat menangkap apa yang tersirat dari apa yang tersurat oleh para pemimpin.

D.    Pemerasan Sosial-Ekonomi
1.      Pemerasan Bahan Makanan
Selain sesuai dengan situasi perang pada waktu itu, kegiatan ekonomi juga diarahkan kepada kepentingan perang.  Jepang berusaha menguasai dan mendapatkan sumber-sumber bahan mentah untuk industry perang. Selain itu jepang juga mempunyai rencana untuk memotong sumber perbekalan musuhnya di Negara-negara Asia. Penguasaan wilayah yang kaya akan bahan-bahan mentah akan meringankan beban Jepang dalam perang. Dalam melaksanakan rencananya, jepang menempuh dua tahap. Tahap pertama adalah penguasaan dan tahap kedua adalah penyusunan kembali ekonomi daerah jajahan untuk memenuhi kebutuhan bahan-bahan  perang. Wilayah-wilayah yang dikuasai harus sanggup memenuhi kebutuhannya sendiri.
Sebelum pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang, mereka melakukan taktik bumi hangus dengan menghancurkan objek-objek vital terutama instalasi tambang minyak bumi. Itulah sebabnya pada masa pertama pendudukan jepang, hamper seluruh kehidupan ekonominya lumpuh. Langkah pertama yang dilakukan pemerintah jepang adalah mengadakan rehabilitasi sarana ekonomi seperti memperbaiki jembatan dan telepon. Dan enduduk Jepang langsung mengawasi perkebunan kopi, kina, teh dan teh. Pemerintah juga memegang monopoli pembelian dan menentukan harga penjualan hasil perkebunan itu. Khusus tanaman jarak sangat dibutuhkan oleh pemerintah penduduk Jepang untuk pelumas mesin-mesin termasuk mesin pesawat terbang. Selain jarak, tanaman kina juga sangat dibutuhkan yakni untuk pembuatan obat anti-malaria, karena penyakit itu dapat melemahkan kemampuan tempur para prajurit.
Jawa Hokokai giat melakukan kampanye untuk meningkatkan usaha pengadaan pangan, khususnya beras dan jagung.  Sedangkan bimbingan pertanian diberikan kepada petani dengan penyuluhan pertanian. Tetapi sebaliknya pihak Jepang tidak pernah memperkenalkan cara bertani modern sebagaimana yang dilakukan Jepang pada waktu itu. Mereka hanya memeras hasil, tanpa memodernisasi sistem pertanian.
Akibat pemerasan yang dilakukan dalam bidang makanan oleh pemerintah penduduk jepang, maka rakyat menjadi sangat miskin dan sengsara hidupnya. Makanan sangat kurang, lebih-lebih makanan yang bergizi, sehingga menyebabkan tenaga kerja jauh berkurang. Penyakit akibat kekurngan makanan merajalela belum lagi ditambah dengan timbulnya bencana alam. Masalah pokok lainnya yang menyangkut kehidupan rakyat adalah masalah sandang. Sebelum pendudukan jepang  masalah sandang di Indonesia sangat tergantung pada import. Tetapi semenjak pendudukan jepang, Indonesia harus mengusahakan sendiri bahan pakaiannya. Caranya adalah dengan mengusahakan percobaan penanaman pohon kapas di beberapa daerah. Usaha pemintalan kapas dilakukan secara menyeluruh, tetapi karena kekurangan bahan baku usaha itu terpaksa dihentikan. Di pedesaan sebagian besar rakyatnya telah mulai memakai kain goni atau bagor.
Pada awal tahu 1944 atas inisiatif Jawa Hokokai diadakan pecan pengumpulan pakaian untu rakyat jelata. Usaha tersebut tidak begitu menolong, sehingga rakyat masih kekurangan. Akibat pemerasan yang dilakukan oleh pemerintahan penduduk Jepang, maka keadaan penghidupan rakyat menjadi parah.

2.      Pemerasan Tenaga manusia
Pemerasan tenaga manusia pada zaman pendudukan jepang dilakukan terhadap semua golongan dalam masyarakat Indonesia, baik orang kota maupun orang desa, mulai dari yang terpelajar sampai kepada yang butahuruf sekalipun. Semuanya diperahkan untuk usaha perang. Golongan yang paling sensara pada zaman pendudukan Jepang adalah romusya. Merka dipekerjakan secara paksa oleh pihak jepang, terutama pada obyek-obyek militer seperti membuat lapangan terbang, membuat kubu-kubu pertahanan dan membuat jalan kereta-api. Tenaga romusya kebanyakan diambil dari desa-desa dan umumnya mereka tidak bersekolah atau paling tinggi tamat sekolah dasar. Pada mulanya mereka dibujuk menjadi romusya , dan kalau tidak berhasil barulah dilakukan pemaksaan.
Pemerasan tenaga romusya tersebut telah membawa akibat pula dalam struktur social di Indonesia. Banyak pemuda-pemuda tani yang menghilang dari desanya, karena mereka takut dikirim sebagai romusya. Apalagi pemerintahan jepang bertindak lebih jauh lagi dimana hamper semua laki-laki yang sehat diambil. Tetapi para romusya yang selamat dan kembali ke desanya akan mempunyai pengalaman-pengalaman banyak dalam berbagai bidang. Mereka yang datang membawa gagasan baru, sehingga desa terbuka untuk perubahan.


BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Ø  Meletusnya Perang Pasifik berpengaruh besar terhadap gerakan kemerdekaan negara-negara di Asia Timur, termasuk Indonesia. Tujuan Jepang menyerang dan menduduki Hindia-Belanda adalah untuk menguasai sumber-sumber alam, terutama minyak bumi, guna mendukung potensi perang Jepang serta mendukung industrinya. Jawa dirancang sebagai pusat penyediaan bagi seluruh operasi militer di Asia Tenggara, dan Sumatera sebagai sumber minyak utama.  Pada zaman pendudukan Jepang di Asia Pasifik ini, terutama di Indonesia, memunculkan beberapa pengaruh di bidang politik, militer dan ekonomi.  Hal ini melatarbelakangi munculnya Pergerakan Nasional di Indonesia seperti Budi Utomo untuk menentang imperialisme barat.
Ø  Pada masa pendudukan Jepang terjadi pengekangan politik terhadap Indonesia.  Sejak masuknya kekuasaan Jepang di Indonesia, organisasi-organisasi politik tidak dapat berkembang lagi. Bahkan pemerintah pendudukan Jepang menghapuskan segala bentuk kegiatan organisasi-organisasi, kemudian diganti dengan organisasi buatan Jepang, sehingga kehidupan politik pada masa itu diatur oleh pemerintah Jepang.
Ø  Tidak hanya pengekangan politik yang terjadi di Indonesia, akan tetapi pemerasan sosial-ekonomi terhadap Indonesia juga terjadi antara lain pemerasan bahan makanan dan pemerasan tenaga kerja yang dilakukan oleh pemerintah Jepang. 


DAFTAR PUSTAKA

Badrika w. 2004. Sejarah nasional Indonesia dan Umum SMA XI Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Notosusanto N dan Basri Y. 1979. Sejarah Nasional Indonesia SMP Jilid III. Jakarta: offset Bumirestu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar