WELCOME TO MY BLOG, DON'T FORGET TO LEAVE A COMMENT _ Selamat datang di blog saya, jangan lupa tinggalkan komentar... THANK YOU :)

Selasa, 21 Mei 2013

Gender dalam Perspektif Agama



A.  Gender dalam Perspektif Agama Islam
1.    Asal-usul penciptaan
Sesungguhnya Al-Quran telah menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan sama dalam asal penciptaan sebagaimana firman-Nya.
“Dari diri yangs atu, dan darinya Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak (Al-Hujurat: 13)”. Dijelaskan pula bahwa Allah Pencipta jiwa manusia, baik laki-laki maupun perempuan, dengan penciptaan yang sama tanpa ada yang bengkok di dalamnya.
2.    Persamaan tanggung jawab dan pahala. Islam menyamakan kedudukan laki-laki dan perempuan dalam tanggung jawab dan kesempatan memperoleh pahala, dalam mengelola harta ekonomi, dalamkesempatan mendapatkan warisan, dalam hak memperoleh upah atas pekerjaan yang mereka kerjakan dan memperoleh pekerjaan,  dalam hukum dan undang-undang pidana, hak memilih pasangan, menghadiri kegiatan ibadah dan pesta, dan hak perempuan dalam kondisi haid.

B.  Gender dalam Perspektif Agama Kristen Protestan
Keberadaan laki-laki dan perempuan, dalam Al-Kitab, digambarkan bahwa sebenarnya hakekat laki-laki dan perempuan adalah setara. Kejadian 1 ayat (27), Mazmur 8 ayat (59) menggambarkan bahwa Tuhan menciptakan manusia segambar dengan Allah. Bukan berarti Tuhan punya telinga dan sebagainya, tetapi manusia selain merupakan anugerah sebagai mahkluk yang mulia, juga mempunyai kewajiban untuk mencerminkan citra Allah yang mulia.
Dalam Kejadian 2 ayat (15-18) disebutkan; "Tuhan menciptakan manusia di taman Eiden untuk mengusahakan dan memelihara Eiden. Eiden itu bukan merupakan suatu tempat, tetapi merupakan sebuah kondisi, yang kita sebagai orang yang beriman menggambarkannya sebagai salam, salom, sahdu dan sandu. Suasana di mana relasi manusia dengan Allah, relasi manusia dengan sesama, dengan lingkungan terjadi harmonisasi.
Ditegaskan khususnya dalam di Kejadian 2 ayat (18); "Tidak baik manusia itu seorang diri saja, aku memberikan penolong yang sepadan dengan dia." Teks ini secara tradisional ditafsirkan hadirnya seorang perempuan bagi laki-laki. Jika direinterpretasi bermakna bahwa manusia jangan merasa sombong. Maksudnya orang sadar bahwa dalam mengelola Eiden ini dia membutuhkan orang lain serta bagaimana orang menerima kehadiran orang lain sebagai penolong yang diberikan oleh Allah dan punya kedudukan yang sama. Hal ini mempunyai konteks umum dan khusus. Konteks umum adalah bagaimana orang menerima kehadiran orang lain sebagai penolong, bukan sebagai rival yang harus disingkirkan. Sedangkan dalam konteks khusus adalah bagaimana seseorang menyambut istri atau suami.
Di zaman Yesus, terdapat tiga mazhab, yaitu Mazhab Farisi, Mazhab Bilel dan Mazhab Sama'i. Mazhab Bilel merupakan pengaruh dari Hamaliel. Dalam mazhab ini, perempuan diletakkan pada posisi yang rendah, sehingga laki-laki boleh menceraikan perempuan dengan alasan apa saja.
Terkait dengan masalah tersebut, Yesus memberikan pengajaran; "Tidakkah kamu membaca bahwa Tuhan menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan. Sebab itu laki-laki meninggalkan ayah dan ibunya bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging, mereka bukan lagi dua melainkan satu. Karena itu apa yang telah dipersatukan oleh allah tidak boleh diceraikan oleh manusia."
Jawaban Yesus ini jika disistemasir dalam empat prinsip dasar penghayatan perkawinan. Pertama, dari teks bahwa Allah menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan. Dalam hal ini saya menangkap bahwa orang mengahayati perkawinan itu dalam kesadaran diri sebagai ciptaan Allah yang terhormat. Dengan kesadaran bahwa saya adalah ciptaan Allah yang punya kehormatan, maka saya akan memperlakukan istri saya juga dalam pengkudusan dan kehormatan. Jadi perkawinan bukan hanya kebutuhan biologis semata. Pasangan saya bukan sekedar alat pemuas bagi saya, pasangan saya adalah manusia yang harus saya kuduskan dan saya hormati.
Kedua, bahwa teks ini disusun di zaman yang sangat kental dengan budaya patriarkhi. Yang dikatakan meninggalkan ayah dan ibunya hanya laki-laki, seharusnya semua. Menurut teks Matius 19 itu adalah perempuan juga harus meninggalkan ayah dan ibunya bersatu dengan suaminya. Sebenarnya pelaksanan dalam masyarakat protestan, perempuan juga meninggalkan orangtuanya, tetapi mereka masih sangat takut untuk melakukan teks kritik, sehingga tidak berani secara ekplisit mengeluarkannya. Meninggalkan ayah dan ibunya itu bukan berarti meninggalkan kekerabatan dan tanggungjawabnya untuk menghormati orangtua, tetapi mandiri. Orang yang sudah berani menikah berarti dia juga harus sudah berani mandiri, baik secara materiil maupun mandiri secara spiritual.
Yang ketiga, dalam teks dikatakan bahwa keduanya menjadi satu daging, mereka tidak lagi dua melainkan satu. Hal ini berarti bahwa Yesus mengajarkan bahwa perkawinan merupakan satu kesatuan yang utuh dalam ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan seorang perempuan.
Dalam Kurintus 7 ayat (3 dan 4) dinasehatkan demikian; "Hendaknya suami memenuhi kewajibannya terhadap istrinya demikian istri terhadap suaminya. Istri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi istrinya." Hal ini berarti ikatan dalam perkawinan bukan hanya ikatan batin saja.
Yang keempat, Dalam teks dikatakan bahwa apa yang telah dipersatukan Allah jangan diceraikan. Di sini Yesus mengajarkan bahwa perkawinan itu bagian dari karya Allah. Dalam Undang-Undang Perkawinan pasal 2 disebutkan, "Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaan, tiap-tiap perkawinan disahkan oleh Undang-Undang."

C.  Gender dalam Perspektif Agama Katolik
Permasalahan gender dalam Katolik tidak terlepas dari konteks tradisi dan budaya, khususnya budaya agama Yahudi. Dalam agama Yahudi, laki-laki mempunyai posisi yang lebih dominan dibandingkan dengan perempuan. Dominasi ini menciptakan ketidakadilan gender. Ketika suatu perbuatan itu dilakukan oleh laki-laki, maka dianggap sebagai suatu kebenaran. Begitu juga di Indonesia, ajaran Kristen tidak dapat terlepas dari budaya warga Indonesia.
Dalam Kejadian 2 disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia dari bumi. Manusia yang pertama kali diciptakan adalah Adam. Kemudian dari tulang rusuk Adam diciptakanlah Hawa. Kemudian disebutkan bahwa Adam jatuh ke dalam dosa karena Hawa. Teks ini memunculkan pandangan bahwa perempuan adalah manusia kedua. Perempuan juga dipandang sebagai sumber dosa. Gereja mengambil teks ini sebagai dasar pandangan hubungan (relasi) antara laki-laki dengan perempuan. Hubungan ini dipandang hanya berdasarkan jenis kelamin saja. Posisi sub ordinat perempuan seperti inilah yang menjadi dasar pandangan awal gereja mengenai perempuan.
Namun dalam perkembangan selanjutnya, seiring dengan perkembangan zaman, Gereja menolak ketidakadilan gender, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Gereja memperhatikan dengan serius dasar-dasar ajaran agama, yaitu; tradisi, teologi dan filsafat, kitab suci serta ajaran gereja dengan pastoral lainnya.
1.    Aspek Tradisi
Salah satu sumber ajaran iman dan moral Katolik adalah tradisi. Tradisi gereja masih dipengaruhi oleh budaya yang bersifat patriarkhis. Suami merupakan penguasa dalam keluarga. Wanita diletakkan dalam posisi sub ordinat. Hal ini merupakan suatu bentuk ketidakadilan gender yang mendasar. Namun Perjanjian Baru memandang bahwa laki-laki dan perempuan adalah sama, sehingga dengan jelas Perjanjian Baru menolak segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga. Berdasarkan hal tersebut maka perlu diadakan perubahan penafsiran kitab suci, terutama Kitab Perjanjian Lama.
2.    Aspek Teologi dan Filsafat
Dalam Kristen, baik itu Katolik maupun Protestan, pencitraan Allah adalah sebagai Bapak, sehingga muncul pandangan bahwa Allah adalah laki-laki. Hal ini mengontruksikan suatu pemikiran bahwa laki-laki adalah penguasa dalam keluarga sehingga sangat berpotensi menimbulkan kekerasan dalam rumah tangga. Sesungguhnya hubungan manusia dengan Allah adalah bersifat personal sehingga Allah dapat mempersonifikasikan diri sebagai Bapak maupun sebagai Ibu.
3.    Aspek Kitab Suci
Dalam Kejadian 2 pasal 2 ayat (5) disebutkan bahwa perempuan merupakan manusia kedua, perempuan sebagai penggoda. Teks normatif ini sangat berpotensi memunculkan kekerasan dalam rumahtangga jika ditafsirkan secara salah. Padahal dalam Kejadian 1 ayat (26) disebutkan bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan sama secitra dengan Allah, keduanya adalah baik.
Dalam Kitab Perjanjian Lama, banyak ketentuan-ketentuan yang menempatkan perempuan sebagai mahkluk kedua, dan diposisikan pada posisi yang sub ordinat. Hal ini sangat berpotensi memunculkan kekerasan psikologis dalam keluarga.
Pencitraan perempuan yang cenderung terasa tidak adil gender ini diperbaharui dan diformulasikan kembali dalam Kitab Perjanjian Baru. Dalam Kitab Perjanjian Baru, perempuan mendapat posisi yang sejajar dengan laki-laki. Yesus menempatkan  perempuan pada posisi yang harus dihormati. Bahkan karena dianggap terlalu memuliakan perempuan dan terlalu memperjuangkan perempuan inilah kemudian Yesus ditangkap dan kemudian dihukum salib oleh penguasa pada waktu itu yang memegang faham patriarkal.
4.    Aspek Ajaran Gereja
Dalam pandangan Gereja Katolik, perempuan dianggap mempunyai martabat yang sama dengan laki-laki. Mereka mempunyai hak untuk berperan dalam masyarakat. Pengakuan kesejajaran antara laki-laki dan perempuan haruslah dihormati. Gereja mengemukakan sikap keterbukaan dalam keluarga, sehingga interaksi dalam keluarga muncul kesejajaran. Gereja Katolik dengan jelas bersikap tidak toleran terhadap ketidakadilan, termasuk ketidakadilan gender yang berpotensi memicu kekerasan dalam keluarga.
Dalam Katolik ada satu komisi yang melayani urusan keluarga yaitu pastoral keluarga yang bertugas melakukan pendampingan keluarga, untuk menanggulangi munculnya kekerasan dalam rumahtangga, termasuk perceraian.
Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa Gereja Katolik menolak ketidakadilan gender. Tetapi untuk mewujudkan keadilan gender dalam masyarakat masih terdapat hambatan yaitu faktor tradisi patriarkhis.

D.  Gender dalam Perspektif Agama Hindu
Wanita sebagai istri bukanlah pendamping suami semata, tetapi hidup bersama untuk menyukseskan swadharma grhasta asrama, membina putra menjadi suputra dan bersama-sama untuk mengabdi pada jagat. Sesungguhnya wanita menurut pandangan Hindu sangat mulia, sejajar dengan laki-laki. Cuma dalam beberapa ketentuan adat-istiadat sering dijumpai wanita menjadi subordinasi laki-laki, atau hanya sebagai pelaksana kebijakan kaum laki-laki. Perbedaan laki-laki dan perempuan hanyalah swadharma-nya.
Sesungguhnya, ajaran agama Hindu telah meletakkan fondasi yang kokoh bagi terciptanya kesetaraan gender antara perempuan dan pria. Garansi' kesetaraan yang mematahkan predikat streotip bahwa perempuan itu manusia kelas dua tersurat dalam ajaran Weda, meskipun masih berupa dasar-dasar ajaran etika seperti ajaran sila krama, tata susila dan tri hita karana. Ajaran-ajaran itu selanjutnya melahirkan beragam ajaran sesana seperti wiku sesana, rsi sesana, werti sesana, aji sesana, stri sesana serta putra sesana.
Menurut pemerhati masalah perempuan, Drs. IB Sudarsana, MBA, sesana-sesana ini yang mengatur tatanan kehidupan sosial masyarakat Hindu, sehingga tercipta gerak kehidupan yang harmonis dan selaras di dalam kegiatan bermasyarakat. Jika merujuk pada kitab suci Weda, tak ada yang namanya gender dominan maupun subdominan. Tak ada ada doktrin bahwa pria itu lebih tinggi hakikat serta martabatnya dibandingkan kaum wanita. Wacana tentang tuntutan kesetaraan gender antara perempuan dan pria, katanya, makin lantang diteriakkan para perempuan di belahan dunia mana pun. Tuntutan tentang kesetaraan gender ini sangat manusiawi bahkan mulia. Belakangan ini kaum perempuan sudah berani bersuara lantang dan tergerak hatinya untuk mengetahui jati dirinya serta mengetahui secara jelas dan tegas tentang hak dan kewajiban seorangperempuan.
Tuntutan kesetaraan gender dianggap sebagai sebuah kritik dan rem untuk kaum pria supaya tidak memperlakukan seorang perempuan semau gue. Prinsip kesetaraan dan keharmonisan antara kaum perempuan dan pria harus dilandasi dengan suara hati nurani yang berbudi luhur sesuai norma-norma yang berlaku di masyarakat. Menurut Sudarsana, konsep kesetaraan gender dari sudut pandang ajaran agama dijelaskan dalam ajaran Maya Tattwa. Dalam ajaran itu diungkapkan Sang Hyang Widhi bermanifestasi menjadi dua kekuatan untuk menciptakan alam semesta beserta isinya yakni kekuatan cetana (kesadaran) disebut kekuatan purusa (maskulinum). Kekuatan yang lainnya adalah acetana (ketidaksadaran) yang disebut kekuatan prakerthi atau predhana (feminin). Kedua kekuatan itu memiliki proporsi serta fungsi masing-masing.
Kekuatan purusa menciptakan parama siwa tattwa, sadha siwa tattwa, siwa tatwa sampai terciptanya kekuatan panca dewata. Kekuatan predhana menciptakan kekuatan mahat, budhi, ahamkara, triguna, panca tan matra sampai adanya kekuatan panca maha butha. ''Ajaran Maya Tattwa ini menegaskan bahwa sebelum manusia tercipta, kesetaraan gender unsur kewanitaan dengan unsur kelaki-lakian telah diciptakan. Namun memiliki proporsi dan fungsi masing-masing serta berjalan sinergis, saling ketergantungan seolah-olah terciptanya suatu sistem sebagai ekosistem,'' ujarnya. Dia mengatakan, ekosistem inilah yang menjadi hukum Rta sesuai yang diungkapkan dalam Weda. Hukum Rta ini disebut dharma dan semua makhluk di alam semesta ini telah diikat oleh Dharmanya Sang Hyang Widhi. Oleh karena itu, tak satu makhluk pun bisa terlepas dari ikatan dharma sehingga lahirlah yang disebut swadharma.
Dengan adanya swadharma, kehidupan makhluk di alam semesta ini dapat mencerminkan aktivitas yang dinamis, seimbang, selaras, dan serasi. Kalau swadharma ini diubah oleh manusia sendiri, hanya atas dasar kemajuan zaman dan teknologi, itu sama dengan mengubah kesadaran, keseimbangan dan keserasian alam terhadap isinya. Perubahan kesadaran bisa timbul disharmoni dan akan berimplikasi negatif terhadap akhlak, moral, budi dan perilaku manusia sehingga kehancuran tak terhindarkan hal ni yang disebut kali yuga.
Gender dalam Keluarga menurut agama Hindu
Dalam masyarakat Hindu, bila keluarga belum melahirkan anak laki-laki, terasa ada yang kurang. Karena dalam pandangan Hindu, putra (anak laki-laki) yang akan menyeberangkan jiwa orangtua ke surga. Dalam agama Hindu, sejak awal kehidupan, perkawinan merupakan salah satu lembaga efektif. Dalam Wreda Smerti disebutkan bahwa hendaknya laki-laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan perkawinan berusaha dengan tidak jemu-jemu supaya mereka tidak bercerai dan jangan melanggar kesetiaan antara satu dengan yang lain. Perkawinan hanya sekali dan jangan melanggar kesetiaan.
Dalam Wreda Smerti juga disebutkan; "Hendaknya hubungan suami istri setia sampai mati". Tetapi dalam kenyataan masyarakat, kawin tidak hanya sekali, laki-laki bisa nikah dengan wanita lain, maksimal empat orang.
Dalam Reg Wreda disebutkan bahwa manusia laki-laki dan perempuan sebagai suami istri disebut dengan istilah Dankapi yang berarti tidak bisa dipisahkan. Dalam perkawinan, laki-laki dan perempuan adalah satu tubuh sehingga laki-laki dan perempuan dalam keluarga seharusnya hidup dalam kesetaraan.
Dalam keyakinan Hindu, hidup itu harus mencapai empat hal; yaitu Darma (kebenaran, tugas kewajiban, agama, ajaran moral), Arta (kekayaan), Kama (nafsu) serta Moksa (manunggaling kawulo gusti).
Dalam rangka melaksanakan darma untuk mengejar arta dan kama supaya mencapai moksa, ajaran Hindu menggunakan konsep Catur Asram, yaitu:
1.    Brahma Carya, yaitu masa menuntut ilmu pengetahuan (live long education)
2.    Grahasta, yaitu masa berumahtangga
3.    Wanaprasta, yaitu masa pensiun
4.    Biksuka, yaitu masa menunggu mati dengan mendalami agama
Sebagai pedoman berumahtangga, umat Hindu ini diajarkan untuk harmoni, rukun, yang tertuang dalam tritakarana (tiga penyebab kebahagiaan), yaitu; manusia harmoni dengan Tuhan, manusia harmoni dengan sesama, manusia harmoni dengan lingkungan. Dengan konsep tritakarana ini, manusia tidak boleh hinakarma (menyakiti orang lain).
Tugas dan kewajiban suami dalam rumahtangga adalah;
1.    Mengupayakan kesehatan jasmani anak.
2.    Membangun jiwa anak.
3.    Memberi makan anak.
4.    Memeberi perlindungan pada anak dan istri.
5.    Menyelamatkan keluarga saat bahaya datang.
6.    Mengusahakan makanan yang sehat dan suci serta diperoleh dari perbuatan yang benar.
7.    Memeberi ilmu pengetahuan keluarga.
8.    Membina mental spiritual.
9.    Menggauli istri, menghormati istri, bergaul hanya dengan istri.
10.     Suami sebagi pelindung istri.
11.     Bertugas mengawinkan putra putrinya dengan adill
     Sedangkan tugas istri, dalam Kitab Mahabharat disebutkan; istri sebagai ibu, juga sebagai dewi, sebagai permaisuri. Dalam Kitab Ramayana, tugas istri adalah:
1.    Melahirkan dan memelihara anak.
2.    Memberi kebahagiaan pada suami dan anak.
3.    Ramah pada suami dan keluarga suami, baik dalam suka maupun duka.
4.    Memeberi kebahagiaan dan keberuntungan pada suami dan mertua.
5.    Menjadi pengayom dalam keluarga.
6.    Berpeampilan lemah lembut dan simpatik.
7.    Menjadi pelopor kebaikan dalam keluarga.
8.    Patuh pada suami.
9.    Setia pada suami.
10.     Senantiasa waspada dan tahan uji.
11.     Menghormat pada orangtua.
     Dalam Hindu, perempuan bisa menjadi pendeta (padane). Bahkan disebutkan jika perempuan tidak dihormati, maka tidak ada upacara persembahan yang memberi kebahagiaan dan pahala yang mulia.
     Sementara itu, tugas anak adalah:
1.    Menuntut ilmu pengetahuan (masa Brahma Carya)
2.    Menghormati orangtua
3.    Menjadi anak yang su putra (anak yang baik), menjaga nama baik keluarga
4.    Menyenangkan hati orangtua dan tidak boleh berbicara kasar pada orangtua

E.  Gender dalam Perspektif Agama Buddha
Kondisi masyarakat India pada masa pra-Buddha diwarnai oleh perlakuan yang diskriminatif atas kasta dan gender. Salah satu ajaran Brahmanisme yang sangat seksis mengatakan bahwa hanya keturunan laki-laki yang berhak melaksanakan ritual penyucian pada saat upacara kematian orang tua mereka (ayah), dan akan mengangkat ayah mereka masuk ke alam surga. Perempuan tidak berhak dan diyakini tidak memiliki kemampuan untuk menyelamatkan orang tua mereka. Dalam situasi demikian, Buddha hadir membawa pembaharuan. Kasta dihapuskan, perempuan diberi hak dan kesempatan yang hampir sama dengan laki-laki dalam menjalani kehidupan religius maupun sosial. Totalitas sikap Buddha yang adil gender ialah didirikannya Sangha Bhikkhuni atau komunitas perempuan yang menjalani hidup suci secara selibat. Perempuan memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan atas jalan hidupnya sendiri: menjadi perumah-tangga biasa, atau meninggalkan peran tradisional tersebut dan hidup sebagai bhikkhuni. Buddha Gautama telah mewujudkan keadilan gender yang hampir setara, yang pada konteks jaman tersebut merupakan hal yang sangat radikal.
Pembaharuan yang dibawa oleh Buddha tersebut bertolak dari Hukum Karma yang diajarkannya: Kemuliaan seseorang tidak berasal pada kelahirannya yang berjenis kelamin atau dari keturunan (kasta) tertentu, melainkan ditentukan oleh perbuatan yang dilakukan. Ritual-ritual persembahan atau pengorbanan tidak dapat menyucikan batin dan membebaskan seseorang dari samsara; oleh karenanya, salah satu keyakinan yang mendiskreditkan perempuan karena dianggap tidak dapat menyucikan orang tuanya setelah mereka meninggal adalah tidak benar.
Buddha menegaskan potensi pencapaian spiritual yang sama antara kaum laki-laki dan perempuan asal tekun melatih diri dengan menyempurnakan: Sila (moralitas), Samadhi (konsentrasi), dan Pañña (kebijaksanaan). Tidak ada bias gender atau seksisme dalam ‘ajaran Buddha yang fundamental dan universal.’
Setelah Buddha mangkat (Parinibbana), status perempuan mengalami kemerosotan lagi. Perkembangan Buddhisme belakangan, terutama sejak munculnya sekte-sekte, telah melahirkan pandangan-pandangan negatif terhadap perempuan yang bertentangan dengan semangat ajaran Buddha yang egaliter. Pendapat lain mengklaim bahwa sifat non-egaliter dalam agama Buddha muncul karena pengaruh Hindu dan Konfusianisme, serta kepercayaan-kepercayaan lokal yang patrtiarkis di mana agama Buddha berkembang.
Keluarga dalam perspektif Buddha
Walaupun ajarannya tidak banyak menyinggung tentang perkawinan dan keluarga, Buddha memberikan nasihat kepada umatnya yang menempuh hidup berumah-tangga mengenai tata hubungan yang harmonis dan seimbang di antara anggota keluarga. Di dalam Sigalovadha Sutta dijabarkan tugas dan kewajiban orang tua-anak, suami-istri, atasan-bawahan, tuan-pembantu, bahkan juga guru-murid, teman atau sahabat. Tugas dan kewajiban masing-masing komponen (bukan hak dan kewajiban) menjadi dasar yang kuat karena mendorong semua pihak untuk bersikap memberi daripada menerima. Mengapa bukan hak dan kewajiban? Buddha menekankan bahwa seseorang hendaknya selalu mendahulukan kewajibannya, selalu  berpikir untuk mempersembahkan sesuatu yang bermanfaat dan membuat orang lain bahagia. Berpikir untuk mendapatkan atau menuntut hak dari orang lain demi kepentingan kita pribadi adalah sikap yang egois.
Yang Mulia Dalai Lama menjelaskan jika seseorang mulai memikirkan dan mengejar kebahagiaannya sendiri, maka pada saat itulah penderitaan bermula. Sebaliknya ketika ia melupakan dirinya sendiri dan mencari cara untuk membantu meringankan beban dan membahagiakan orang lain, saat itulah kebahagiaan muncul. Sebagaimana dikutip oleh Tsomo, “Happiness comes from replacing our self-centered attitudes with the wish to help others —generating loving kindness and compassion even toward those who harm us.”6 Dalam konteks kehidupan berkeluarga, apabila setiap anggota keluarga memenuhi tugas dan kewajibannya berarti: 1) tidak ada yang berpikir egois bahwa orang lain yang harus membahagiakan dirinya, 2) tidak ada yang meninggalkan kewajibannya sehingga membebani orang lain dan menyebabkan ketidakseimbangan dalam keluarga, 3) setiap anggota keluarga berpikir bahwa kebahagiaan keluarga menjadi tanggung-jawab seluruh anggota, dan oleh karenanya semua harus aktif mengupayakannya.
Komponen keluarga meliputi suami-istri, orang tua/mertua-anak, dan majikan-pegawai/ pembantu. Kewajiban dari masing-masing komponen tersebut akan diuraikan di bawah ini seperti yang tertulis di dalam Sigalovada Sutta:
1.    Kewajiban suami terhadap istri
a.    Menghormati istrinya;
b.    Bersikap lemah-lembut terhadap istrinya;
c.    Bersikap setia terhadap istrinya;
d.   Memberikan kekuasaan tertentu kepada istrinya;
e.    Memberikan atau menghadiahkan perhiasan kepada istrinya.
2.    Kewajiban istri terhadap suami
a.    Melakukan semua tugas kewajibannya dengan baik;
b.    Bersikap ramah kepada keluarga dari kedua belah pihak;
c.    Setia kepada suaminya;
d.   Menjaga baik-baik barang-barang yang dibawa oleh suaminya;
e.    Pandai dan rajin dalam melaksanakan semua pekerjaannya.
3.    Kewajiban orang tua terhadap anak
a.    Mencegah anak berbuat jahat;
b.    Menganjurkan anak berbuat baik;
c.    Memberikan pendidikan profesional kepada anak;
d.   Mencarikan pasangan yang sesuai untuk anak;
e.    Menyerahkan harta warisan kepada anak pada saat yang tepat.
Adil Gender dalam keluarga menurut Buddha
Ajaran Buddha dalam perkembangannya menyerap pengaruh budaya patriarkis yang menciptakan stereotip-stereotip yang merugikan kaum perempuan. Hukum Karma yang mengoreksi pandangan salah tentang inferioritas seseorang berdasarkan kasta atau jenis kelamin yang ditentukan oleh kelahirannya justeru mengalami salah penafsiran. Dewaraja menyatakan:
The doctrine of Karma and Rebirth, one of the fundamental tenets of Buddhism, has been interpreted to prove the inherent superiority of the male. According to the law of Karma, one’s actions in the past will determine one’s position, wealth, power, talent and even sex in future births. One is reborn a woman because of one’s bad Karma. Thus the subordination of women is given a religious sanction. The doctrine of Karma and Rebirth, one of the fundamental tenets of Buddhism, has been interpreted to prove the inherent superiority of the male. According to the law of Karma, one’s actions in the past will determine one’s position, wealth, power, talent and even sex in future births. One is reborn a woman because of one’s bad Karma. Thus the subordination of women is given a religious sanction.
Adanya pandangan bahwa terlahir sebagai perempuan lebih banyak menderita karena faktor-faktor biologisnya seperti takdir untuk mengalami menstruasi, mengandung, melahirkan, menyusui, dan memesarkan anak sedikit banyak telah mendorong pada munculnya gender inequalities dan gender injustices. Keyakinan yang salah akan ketidakmampuan perempuan mencapai ‘kebuddhaan’ selama masih terperangkap dalam fisik dan kesadarannya sebagai perempuan juga membawa efek yang menyudutkan posisi perempuan. Pandangan-pandangan
salah semacam ni harus dikoreksi, jika menginginkan pemahaman dan keadilan gender dapat
terwujud dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.
Pembenahan dalam cara berpikir tentang gender perlu diikuti dengan perubahan dalam sikap dan perilaku. Buddha tidak hanya memberikan doktrin-doktrin, tetapi juga memberikan ‘jalan’ untuk mengurangi penderitaan dan mengantarkan pada kebahagiaan. Penderitaan dalam perspektif Buddhis erat kaitannya dengan sifat ‘dukkha’ yaitu ‘tidak kekal,’ ‘tidak memuaskan,’ dan ‘tidak sempurna’ dari kehidupan ini. Penderitaan muncul ketika seseorang menginginkan sesuatu yang bertentangan dengan sifat kehidupan. Doktrin tidak dapat merubah sifat dan perilaku seseorang. Dengan hanya mengerti ajaran-ajaran tentang baik-jahat, terpuji-tercela, kekal-fana, memuaskan-mengecewakan, dan seterusnya tidak mampu merubah karakter seseorang menjadi baik. ‘Delapan Jalan Utama’ (Ariya Atthangika Magga) yang diajarkan oleh Buddha merupakan sebuah ‘way of life’ yang sehat, sering juga disebut sebagai ‘Jalan Tengah’ (Majjhimā Patipadā) yang tidak memanjakan kesenangan inderawi dan tidak pula menyiksa diri.
Jalan Tengah yang dimaksud yaitu:
1.    Sammā Ditthi : Pengertian Benar
2.    Sammā Sankapa : Pikiran Benar
3.    Sammā Vāccā : Ucapan Benar
4.    Sammā Kammanta : Perbuatan Benar
5.    Sammā Ajiva : Penghidupan Benar
6.    Sammā Vāyāma : Daya Upaya Benar
7.    Sammā Satti : Perhatian Benar
8.    Sammā Samādhi : Konsentrasi Benar15
Kedelapan jalan tersebut dapat diringkas dalam tiga kelompok, yaitu (1) yang berhubungan dengan moralitas atau tingkah laku (Sila), terdiri dari ‘Ucapan Benar,’ ‘Perbuatan Benar,’ dan  ‘Penghidupan Benar;’ (2) yang berhubungan dengan disiplin mental (Samadhi), terdiri dari ‘Daya Upaya Benar,’ ‘Perhatian Benar,’ ‘Konsentrasi Benar;’ dan (3) yang berhubungan dengan pencapaian kebijaksanaan (Pañña), yang terdiri dari ‘Pengertian Benar’ dan ‘Pikiran Benar.’
Penjabaran dari Sila kurang lebih sama dengan pelaksanaan Pancasila, yaitu dengan mendisiplikan diri untuk berperilaku yang baik dan benar, tidak menimbulkan penderitaan bagi diri sendiri maupun makhluk lain. ‘Penghidupan Benar’ menyangkut cara mencari nafkah yang tidak membahayakan dan merugikan makhluk lain, seperti penipuan, ketidaksetiaan, penujuman, kecurangan, memungut bunga yang tinggi (praktek lintah darat). Perdagangan yang harus dihindari adalah berdagang alat senjata, berdagang makhluk hidup, berdagang daging (atau segala sesuatu yang berasal dari penganiayaan makhluk-makhluk hidup), berdagang minum-minuman yang memabukkan atau yang dapat menimbulkan ketagihan, dan berdagang racun.
Samadhi (meditasi atau mendisiplinkan mental) merupakan latihan untuk membangun unsur-unsur yang positif dan melenyapkan unsur-unsur yang jahat pada diri seseorang; mengenal diri sendiri dengan lebih baik sehingga waspada dan mampu mengendalikan diri atas munculnya emosi-emosi negatif; dan yang terakhir mencapai keseimbangan pikiran/batin.
Penyelaman dan pengolahan pikiran/batin ini sama dengan menciptakan mental yang sehat, kokoh, tenang, tidak rapuh jika mendapat serangan berbagai persoalan hidup. Meditasi mempunyai kekuatan untuk meredakan amarah, mengenali sifat tidak kekal dari berbagai gejolak perasaan, mengikis kebencian, menenangkan batin dan menjernihkan pikiran. Kualitas mental yang dicapai melalui melatih Sila dan Samadhi dengan tekun membuat seseorang terbiasa untuk bereaksi dengan sikap dan tindakan dengan penuh pertimbangan dan pengendalian diri.
Perselisihan dan kekerasan muncul karena seseorang tidak ‘terampil’ mengelola emosinya dengan tepat, tidak waspada terhadap akibat-akibat yang akan timbul dengan sikap/perilakunya yang negatif.
Pañña yang mencakup ‘Pikiran Benar’ dan ‘Pengertian Benar’ merujuk pada ajaran yang dikemukakan oleh YM Dalai Lama sebelumnya, yaitu mengikis ego atau ‘keakuan’ yang menjadi sumber penderitaan. Kebencian, kerakusan, dan kebodohan (kegelapan batin) manusia merupakan tiga akar kejahatan (the three roots of evil) yang menyebabkan penderitaan dan hancurnya kehidupan. Misalnya seseorang menginginkan suatu benda; setelah berhasil memiliki ia akan menginginkan yang lain lagi, yang lebih baik, lebih mahal, lebih banyak, dan seterusnya.
Orang tersebut akan sangat menderita karena telah menjadi budak dari kerakusan yang menyiksanya. Ketiga hal tersebut dapat dikikis melalui ‘Pengertian Benar’ akan ‘Empat Kesunyataan Mulia’ (Hidup adalah Dukkha, Sumber Dukkha, Terhentinya Dukkha, dan Jalan
yang Menuju ke Terhentinya Dukkha). Kebencian, kerakuan dan kebodohan hanya akan memenjarakan manusia dalam lingkaran kelahiran dan kematian yang tiada henti. Pemahaman akan akar penderitaan ini dicapai lewat pengembangan Pañña dan Samadhi.
Kekerasan dalam rumah-tangga terjadi ketika orang merespon secara negatif  persoalan-persoalan atau situasi-situasi yang dihadapi, khususnya yang melibatkan keluarga. Bahkan persoalan yang tidak bersangkut-paut dengan keluarga, tetapi tetap anggota keluarga atau pembantu yang menjadi sasaran kemarahan atau luapan emosi yang tidak terkendali.
Pandangan Buddhis terhadap seseorang yang demikian adalah orang yang mentalnya sedang ‘sakit.’ Orang tersebut tidak bahagia, tetapi tidak mampu menghadapi rasa sakit dan terlukanya dengan sikap yang bijak. Ketidakbahagiaannya justeru menyeret ketidakbahagiaan orang lain, menimbulkan lebih banyak penderitaan. Keduanya sama-sama membutuhkan pertolongan, terlebih lagi orang yang menyakiti orang lain (atau anggota keluarganya sendiri).
Kesimpulan
Didalam kitab suci Al-Qur an senantiasa Tuhan menegur atau memperingatkan Umat manusia baik laki-laki maupun wanita  dalam satu kita misal afala ta`qilun (bukankah kalian orang-orang yg berakal) ,afala tatafak karun(bukankah kalian orang-orang yang berfikir). Hadits ”Sorga ada ditelapak kaki ibu”  menunjukkan betapa mulianya derajat seorang perempuan dalam keluarga.
Dalam ajaran Katolik menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan menempati posisi yg setara dan sederajat. Antara lain dalam Kitab Kejadian1:27-28: ”Allah menciptakan manusia mnrt gambar-Nya sendiri, Menurut gambar Allah diciptakan laki-laki dan perempuan. Allah memberkati mereka dan lalu berfirman: ”Beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi & taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung diudara & atas segala binatang yg merayap di bumi. 
Menurut Protestan, dalam ajaran Alkitab, Allah mewujudkan Kasih-Nya terhadap manusia tanpa memandang jenis kelamin, golongan maupun usia & nyata benar dalam terang kasih Allah antara laki-laki dan wanita.
Menurut agama Buddha manusia terdiri dr laki-laki dan wanita yg munculnya bersamaan di bumi (Angganna Sutta). Seseorang dpt terlahir kembali sbg laki-laki maupun perempuan sesuai dg karma masing2.  
Agama Hindu mengajarkan bahwa seluruh umat manusia diperlakukan sama dihadapan Tuhan sesuai dg darma baktinya.
DAFTAR PUSTAKA
Subagyo, Bambang. 2006. Sikap dalam Mewujudkan Kemitrasejajaran Laki-Laki dan Perempuan dalam Keluarga, Makalah untuk Diskusi “Penguatan Pemahaman Dan Sikap Keagamaan Yang Adil Gender Dalam Keluarga” diselenggarakan oleh Pusat Studi Islam Universitas Islam Indonesia, 8 September 2006.
Makalah Rengganiasih, Wilis. 2006. Perspektif Buddhis tentang Pemahaman dan Sikap Adil Gender dalam Keluarga, untuk Diskusi “Penguatan Pemahaman Dan Sikap Keagamaan Yang Adil Gender Dalam Keluarga” diselenggarakan oleh Pusat Studi Islam Universitas Islam Indonesia, 5 September 2006.
Agung, Ida Bagus. 2006. Gender Dan Swadharma Warga Rumah Tangga Dalam Perspektif Agama Hindu, Makalah untuk Diskusi “Penguatan Pemahaman Dan Sikap Keagamaan Yang Adil Gender Dalam Keluarga” diselenggarakan oleh Pusat Studi Islam Universitas Islam Indonesia, 8 September 2006.
Bolong, Bertolomeus. 2006. Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Keluarga (Pandangan Gereja Katolik), Makalah untuk Diskusi “Penguatan Pemahaman Dan Sikap Keagamaan Yang Adil Gender Dalam Keluarga” diselenggarakan oleh Pusat Studi Islam Universitas Islam Indonesia, 8 September 2006.
Al-Khayyath, Muhammad Haitsam. 2007. Problematika Muslimah di Era Modern. Jakarta: Erlangga.
Adi, Ketut. 2002. Kesetaraan Gender Diakui dalam Weda, (Online), (diakses dari http://www.iloveblue.com/bali_gaul_funky/artikel_bali/166.htm, pada 2 Juli 2011).


[1] Di sadur dari tulisan Subagyo, Bambang. 2006. Sikap dalam Mewujudkan Kemitrasejajaran Laki-Laki dan Perempuan dalam Keluarga.
[2] Di sadur dari tulisan Bolong, Bertolomeus. 2006. Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Keluarga (Pandangan Gereja Katolik),
[3] Di sadur dari tulisan Agung, Ida Bagus. 2006. Gender Dan Swadharma Warga Rumah Tangga Dalam Perspektif Agama Hindu.

[4] Disadur dari tulisan Subagyo, Bambang. 2006. Sikap dalam Mewujudkan Kemitrasejajaran Laki-Laki dan Perempuan dalam Keluarga, Makalah Rengganiasih, Wilis. 2006. Perspektif Buddhis tentang Pemahaman dan Sikap Adil Gender dalam Keluarga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar